
“Alangkah Lucunya Negeri Ini” Itulah judul film fenomenal besutan aktor senior bertangan dingin Deddy Miswar. Dalam film itu saya terkesan dengan adegan yang diambil di depan gedung DPR/MPR. Di sana, seseorang menjelaskan berbagai hal tentang DPR yang kepajangannya adalah Dewan Perwakilan Rakyat. Mendengar penjelasan orang tersebut seorang anak yang berprofesi sebagai copet bertanya kepadanya, “Wakil copet ada apa tidak?”
Pertanyaan tersebut memang terkesan lucu dan menggelitik. Tetapi pertanyaan tersebut membuat saya terbelalak karena meski pertanyaan itu hanyalah pertanyaan ringan seorang bocah tetapi mengandung makna yang begitu mendalam. Kita harus mengakui bahwa copet merupakan sebuah ‘profesi’ yang sudah ada di negeri ini sejak jaman dulu. Dan memang harus ada perwakilannya di gedung DPR sana. Lho mengapa demikian? Bukankah copet sangat meresahkan pengguna bus umum atau kereta api? Bukankah pekerjaan mencopet di larang Agama? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang harus segera dijawab.
Ya memang benar copet sangat meresahkan tetapi hanya meresahkan pengguna angkutan umum. Petani yang ada di puncak gunung sana tidak akan pernah dibuat risau oleh pencopet. Copet hanya menggunakan kecepatan tangannya untuk mengambil dompet orang lain yang lengah. Sekarang coba bandingkan dengan copet-copet yang gentayangan di dalam gedung dewan dan kantor-kantor pemerintahan. Ada banyak jenis copet yang ada di negeri ini yang tidak mungkin kita bahas semuanya di sini. Tetapi ada beberapa copet unggulan yang perlu dipertimbangkan untuk kita ketahui. Beberapa jenis ‘copet’ tersebut antara lain:
Copet Dewan Perwakilan
Dengan menggunakan tangan-tangan ghaib “invisible hands” mereka mencopet ayat-ayat hukum positif yang berlaku untuk mengeruk kekayaan negara menjadi kekayaan pribadi. Jenis ‘copet’ yang ini bukan hanya meresahkan pengguna angkutan umum tetapi juga meresahkan petani yang ada di gunung tinggi, meresahkan kuli bangunan, meresahkan MUI dan masih banyak lagi orang yang diresahkan oleh mereka bahkan para copet yang beroperasi di angkutan umum juga secara tidak langsung dibuat resah oleh ulah copet yang ada di Gedung Dewan ini. Kesimpulannya, wakil copet bukan hanya ‘ada’ di gedung megah itu tetapi ‘BANYAK’ dari mereka memang berprofesi sebagai copet. Pendeknya, semua penghuni negeri, baik secara langsung atau tidak langsung, akan dibuat resah oleh para pencopet jenis ini. Masih ingat dalam ingatan kita bagaimana mereka ‘mencopet’ ayat rokok dengan tangan-tangan ghaib mereka. Mereka yang terlibat hanya di ‘tipiring’ saja sehingga rakyat yang merupakan pemilik Negara ini tidak tahu sanksi apa yang diterima para ‘pencopet’ ini. Coba kita bandingkan dengan copet yang ada di bus atau kereta api, mereka akan digebuki massa hingga nyawa terlepas dari raga, sungguh berat sanksi untuk copet kecil, sedangkan copet kakap yang pintar bisa kembali mencopet keadilan dari para penegaknya dengan menggunakan uang hasil mereka mencopet undang-undang—SELAMATLAH mereka. So, sampai di sini terjawablah sudah pertanyaan bocah di film tersebut.
Copet di Penjara
Adakah copet di penjara? Pertanyaan itu tidak perlu kita ajukan karena jawabannya sudah jelas, “BANYAK.” Masih jelas dalam ingatan bagaimana seorang RATU SUAP bernama Artalita Suryani atau Raja Mafia Pajak Gayus Tambunan mencopet harga diri para petugas penjara—mulai dari Ka Lapas hingga jongos penunggu jeruji besi sehingga mereka ‘sekarat’ di depan tumpukan uang haram yang disodorkan para COPET tersebut. Dengan kekuatan uang hasil mencopet Artalita berhasil mengubah ruang penjara yang biasanya pengap dan berdesak-desakan menjadi ruang dengan fasilitas hotel bintang lima plus sauna dan ruang hiburan. Gayus dengan sumber pendapatan yang kurang lebih sama berhasil keluyuran ke Bali bahkan ke Makau, KL dan Singapura. Dan para pegawai LAPAS yang harga dirinya sudah dicopet para koruptor, mereka gantian mencopet hak-hak yang seharusnya didapatkan para napi kelas ‘kere’ seperti ‘pencuri’ 3 buah kakau, 10 kg kapuk, setandan pisang, sebuah semangka dan sebangsanya. LUAR BIASA LUCUNYA NEGERI INI. Sebuah negara memang akan terlihat lucu jika orang yang hidup di dalamnya selalu memandang/mengukur sesuatu dengan uang—ya kurang lebih seperti INDONESIA dech. Sekedar diketahui, Indonesia masih menjadi pemegang juara UMUM dalam kompetisi Negara Terkorup di Asia Pasific. Semoga gelar prestisius ini mampu kita pertahankan di tahun-tahun mendatang dengan cara melakukan pemusatan latihan ARTALITA GAYUS secara berkala dan berkelanjutan.
Copet di Kepolisian
Wakakkkkk…… yang ini nggak perlu dibahas dech…karena mereka membawa senjata…….!!!
Dan masih banyak lagi copet-copet lain yang berkeliaran di negara bernama INDONESIA ini, baik di pengadilan, kejaksaan bahkan di kalangan kita sendiri—RAKYAT KECIL. Misalnya, guru mencopet waktu, pedagang mencobet timbangan, kuli bangunan mencopet aspal, juragan mencopet keringat bawahan dan lain sebagainya. Semoga kita semua dihindarkan olehNya dari segala tipu daya copet dan juga terhindar dari kemungkinan MENJADI COPET atau sekedar bermental copet. Amiin… love11,1,11